Tampilkan postingan dengan label Gus Dur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gus Dur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Mei 2016

GUS DUR : Nyi Roro Kidul marah karena dipaksa Pakai Jilbab


Gus Dur ditanya serius tentang penyebab terjadinya   tsunami dan gempa di Yogyakarta. Nah karena Gus Dur bukan ahli geologi maka dia menjawab sekenanya saja.
"Itu karena Nyi Roro Kidul marah karena dipaksa pakai jilbab," kata Gus Dur. Ceritanya, Gus Dur sedang menyindir kelompok umat Islam di Indonesia yang memaksakan peraturan daerah (Perda) syariat Islam.<> (Anam/NU Online)

Sabtu, 09 April 2016

Gus Dur : Gus DUR "Weruh Sakdurunge Winarah" dapat mengetahui sebelum kejadian.

Gus Dur Tahu sebelum Kejadian "Weruh Sakdurunge Winarah"NetOopsblog protected imageNetOopsblog protected imageNetOopsblog protected image
Para Waliyullah memiliki berbagai karomah yang menunjukkan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Selain kejadian-kejadian aneh, karomah (keutamaan) ini seringkali berupa pengetahuan tentang hal-hal yang akan terjadi pada masa-masa yang akan datang.

Salah satu alasan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering disebut-sebut sebagai waliyullah adalah pengetahuan Gus Dur mengenai peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Masyarakat Jawa biasa menyebut kemampuan ini dengan istilah "weruh sak durunge winarah." 

Beberapa ulama dan Kiai banyak menceritakan tentang kemampuan Gus Dur yang satu ini. Selain cerita kebiasaan tidur di kala seminar yang kemudian terbangun dan bicara dengan sempurna mengenai isi pembicaraan sebelumnya, Gus Dur juga memiliki cerita kemampuan "weruh sak durunge winarah" ini di dunia nyata.

Kisah berikut ini diceritakan oleh Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Utara, KH Miftakhul Falah tatkala Beliau turut menunggui Gus Dur yang dirawat di Rumah Sakit Umum Koja Jakarta Utara, sekitar tahun 1994-an.

Dalam ceritanya, KH Miftakhul Falah menceritakan, sewaktu Gus Dur sedang dirawat di RS Koja, beliau menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Habib Hasan di Pemakaman Koja. Dalam berziarah ini, Gus Dur selalu ditemani oleh beberapa orang sambil mendengarkan ceritanya.
"Kalau di kemudian hari makam ini dibongkar, maka akan terjadi kerusuhan," kata Miftakhul Falah menirukan kata-kata Gus Dur kala itu.

Menurut Miftah, tidak seorang pun yang mengerti dan akan membayangkan kalimat Gus Dur tersebut akan menjadi kenyataan pada suatu ketika. Namun rupanya, zamanlah yang kelak membuktikan kata-kata Gus Dur tersebut.

"Terbukti. Ketika makam tersebut akan dibongkar, benar-benar terjadi kerusuhan pada bulan April 2010 lalu," tutur Miftakhul Falah.

Menurutnya, banyak kini di antara temen-temannya yang menjadikan kalimat tersebut sebagai bukti kewalian Gus Dur. Ketika orang-orang lain bahkan belum bisa membayangkan, Gus Dur telah mengungkapkannya. (min/NU Online)

Rabu, 24 Februari 2016

Cerita para Kiyai : 3 Generasi terbaik Bangsa yang Menginspirasi Sepanjang Zaman

3 Generasi terbaik Bangsa yang Menginspirasi Sepanjang Zaman/muslimoderat.com
Gambar: Masyamsul Huda
  Kangsoal.blogspot.co.id- Cerita para Kiyai : 3 Generasi terbaik Bangsa yang Menginspirasi Sepanjang Zaman- para tokoh pesantren terus memberikan sumbangsih terhadap bangsa dan rakyat Indonesia. Lewat institusi pendidikan yang dimilikinya banyak menyumbangkan generasi-generasi yang melek huruf. Karakter tokoh pesantren yang anti kemapanan menjadikan mereka tidak gila jabatan, harta, dan popularitas. Mereka memberikan kemampuan terbaik semata-mata karena Allah. Pesantren Tebuireng merupakan salah satu pesantren dari yang ada di Indonesia menyumbangkan sumbangsih tidak sedikit. Setidaknya ada tiga tokoh (Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. A. Wahid Hasyim, dan KH. Abdurahman Wahid) yang berperan penting terhadap perjuangan bangsa Indonesia di setiap zamannya. Gelar pahlawan yang diberikan kepada ketiganya yang masih satu darah menjadikan satu-satunya rekor dunia. Betapa tidak! Satu darah menjadi orang hebat semua di setiap zamannya. Seakan mereka yang mengisi, dan menjadi pendobrak zaman. Terlahir dari bibit yang unggul tentunya.

Sosok Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari itu seorang ulama besar yang mampu mencatatkan namanya dalam tinta emas sejarah Indonesia. Amal sosialnya dalam perjuangan menegakan agama dan membangun negara tak mampu dilukiskan dalam sekelumit kata dan gambar. Dalam tubuh NU dan masyarakat pesantren sudah pasti mendapatkan tempat yang tertinggi.


Pasalnya banyak ulama yang berguru kepadanya di pesantren Tebuireng, yang dikemudian hari menjadi pemimpin ulama dan tokoh masyarakat di berbagai penjuru Nusantara. Makamnya terus didatangi jamaahnya. Mereka datang dari segenap penjuru daerah untuk memberikan doa untuknya. Berapa banyak bacaan fatihah yang diberikan kepadanya setelah shalat dan malam jum’at oleh santri dan pengikutnya? Nampaknya, ungkapan tatkala kamu menangis dan menjerit saat lahir didunia, dan orang di sekelilingmu menangis saat kamu meninggalkan dunia sangatlah tepat.
 
baca Juga : Inilah Kedekatan Gus Dur dengan Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi Kwitang

Kebesaran seseorang terlihat tidak hanya saat masih hidup, namun juga bisa dilihat saat engkau telah tiada. Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari merupakan seorang ulama besar Indonesia yang juga mewariskan banyak karya tulis. Salah satunya untuk pedoman berakhlussunah wal jamaah dan buku pedoman menjadi santri yang ideal. Sebagai ulama pejuang kemerdekaan beliau mampu memberikan pencerahan dan spirit kepada para pemimpin bangsa untuk tidak kendor menghadapi kaum penjajah. Semangat berjuang yang dilandaskan ajaran agama menjadi jihad suci membela NKRI.


Semangat berjuang dalam membela agama dan bangsa tertancap lebih dalam jiwa dan raga dikalangan para santri Tebuireng. Semangat itulah yang menular lintas generasi. Ilmunya yang dalam, akhlaknya yang terpuji, dan perjuangannya yang tak mengenal menyerah menjadikan banyak orang dalam berbagai kalangan menaruh simpatik kepada Hadratussyaikh. Selain itu, beliau juga melahirkan keturunan yang tak kalah hebat. Selanjutnya institusi yang besar seperti namanya.
 

 KH. A. Wahid Hasyim merupakan putera Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang memiliki reputasi sangat baik. Baik dikalangan masyarakat pesantren maupun luar pesantren. Intelektual asli pesantren yang sangat diperhitungkan. Kemandiriannya dalam hal belajar di masa mudanya, pengalamannya berorganisasi, dan berjuang merintis negara menjadikannya seseorang yang patut di jadikan inspirasi. Kontribusinya amat besar, sehingga negara memberinya gelar pahlawan nasional.

Ide dan pemikirannya melampui zamannya. Wajar, jika pertama kali mengusulkan sistem pelajaran di pesantren harus lebih dinamis dan kreatif untuk menopang kemajuan masyarakat pesantren di masadepan. Sempat
mendapatkan respon kontroversi yang ramai dimuka umum. Ayahnya yang sudah mengetahui karakter putera lelakinya itu mendukung dibelakang. Jika santri belajar di pesantren hanya memiliki tujuan untuk menjadi ulama semata tentu banyak sektor di masyarakat tidak terisi dari kalangan santri. Santri harus cakap dalam banyak hal. Sehingga ketika terjun, mampu menempatkan diri dengan baik. Dengan berbekal keilmuan dan kematangan diri. Santri pesantren siap bersaing pula.

Ulama intelek dari Tebuireng ini, mampu membaca tanda-tanda zaman. Beliau juga memberikan nasehat kepada kita semua, “Belajar berorganisasi dan belajarlah menambah pengetahuan dan meluaskan pengalaman sendiri. Membacalah! itulah pokok kemajuan Islam. Bukankah, wahyu yang pertama turun kepada Nabi Muhammad Saw. menyuruh membaca, menyuruh menggunakan pena, karena dengan membaca dan menggunakan pena itu, Tuhan mengajarkan kepada umat baru ilmu pengetahuan yang belum dipelajari. Ya membaca! Menulis dan membaca sebanyak-banyaknya. Itulah pokok kemajuan yang tak ada batasnya.”Untuk menjadi kaum intelek, menurut beliau seseorang harus menyediakan waktu 5 jam perhari untuk membaca. Baca apa saja 5 jam perhari maka engkau menjadi intelektual.


Bapak pendiri bangsa ini, amat di segani baik oleh kawan maupun lawannya. Sayang, Tuhan mengambil nyawanya dalam usia muda. Dalam tinta sejarah Indonesia segala bentuk perjuangan tercatatkan, misalnya pendirian perguruan tinggi Islam kini (UIN) merupakan salah satu contohnya. Pengabdiannya kepada agama dan negara dilakukan secara totalitas. Beliaupun dianugerahi gelar pahlawan nasional.
 

 KH. Abdurahman Wahid akrab dengan panggilan Gus Dur merupakan generasi dari Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari putera dari KH. A. Wahid Hasyim merupakan mantan Presiden RI ke 4. Yang berasal dari kalangan santri. Sejak kecil sudah suka membaca buku apa saja seperti ayahnya. Jihad ilmiahnya dari pesantren ke pesantren. Bahkan juga melintasi benua Afrika dan Eropa. Pergaulannya sangat luas, tidak hanya dari kelompoknya namun juga dengan beragam kalangan.

Perjuangan dengan kakek dan ayahnya sama di dalam negeri. Hanya saja berbeda zaman. Semasa hidupnya Gus Dur banyak mendobrak kejumudan berpikir. Beliau juga melawan penguasa yang berbuat dholim. Wacana pengetahuan yang dilontarkan selalu menjadi inspirasi anak-ANAK muda dari berbagai kalangan utamanya kaum muda NU. Kemampuannya menyatukan seluruh elemen bangsa menjadikannya amat dicintai dari berbagai kelompok.


Baik dari kelompok minortitas maupun mayoritas yang berbeda agama, politik, budaya dan lainnya. Sederet gelar diberikan kepadanya walaupun toh beliau tidak mengharapkannya. Sebagai orang yang tidak gila jabatan, harta, dan lainnya membuatnya dihormati. Semenjak kepergiannya ke alam barzah peziarah yang mendatangi pusaranya ramai saban hari. Dan mampu menggerakan perekonomian masyarakat sekitar. Dari mulai jasa poto, parkir, jajanan, aksesoris dan lainnya mengambil berkah dari aktivitas ziarah.


Amal sosialnya yang tak terhitung membuat pemerintah akan menghadiahinya Gelar pahlawan bagi mantan presiden ke-4, Abdurahman Wahid atau Gus Dur sudah selesai di Dewan Gelar, tapi dengan catatan diendapkan menunggu waktu yang tepat, ” ujar Khofifah melalui siaran pers, Sabtu (7/11/2015). Meski gelar itu tak penting bagi Gus Dur namun membuat pengikutnya dari segenap lapisan masyarakat merasa bangga dan bahagia.


Sosok tiga tokoh dari satu darah menjadikan kita semua merasa perlu untukmenjadikannya teladan. Semangat berjuangnya patut ditiru. Keilmuannya yang mendalam juga. Akhlaknya yang terpuji.Artinya tokoh-tokoh pesantren memiliki kontribusi nyata terhadap bangsa dan rakyat Indonesia. Dalam hal ini, kita para santri dan kaum terpelajar dimanapun dan kapanpun tidak bisa sekedar hanya menjadi penggembira semata melihat tokohnya. Masih banyak ide-ide perjuangan para beliau yang belum usai diselesaikan. Patut untuk dilanjutkan.
Ahmad Fao

Selasa, 23 Februari 2016

Gus Dur : Nasihat Gus Dur tentang Pentingnya Do’a Orang Tua, Guru, Keluarga dan Sahabat


  Kangsoal.Blogspot.co.id - Gus Dur : Nasihat Gus Dur tentang Pentingnya Do’a Orang Tua, Guru, Keluarga dan Sahabat -  Orang yang sering mustajab do’anya, sementara ia masih sering kesiangan Sholat subuhnya, ketahuilah bahwa kemustajaban do’anya itu adalah bagian dari Istidroj, demikian dawuh Simbah Yai Mishbah Zain Al Mushthofa Bangilan Tuban dalam kitabnya Syarah Hizb al Nashor.

Kalau teringat dawuh ini, rasanya terkelupas wajah saya, betapa banyak kemudahan kemudahan yang saya terima dalam hidup ini yang jika diukur dengan ketaqwaan saya sungguh tidak sebanding, bahkan sangat tidak pantas.

Begitu saja masih terjejal di otak, bermacam keinginan dan program hidup di masa depan yang maunya terlaksana dengan mudah.

ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب

“Siapa yang BERTAQWA Alloh akan membuat untuknya SOLUSI dan memberi Rizqi baginya dari arah yang tiada diperhitungkan”

Jelas sudah bahwa Mahrojan atau solusi itu datang dari sebab ketaqwaan, mafhum mukholifnya tentu jika ada solusi yang tidak disertai ketaqwaan, maka itu bukanlah Anugrah.


Untung saja saya masih dapat menghibur diri, bahwa kemudahan kemudahan yang saya terima sangatlah mungkin itu datang dengan sebab doa kedua orang tua, kakek nenek, para guru dan para sahabat yang terus mengalir kepada saya.

أللهم اغفرلي ولوالدي ولمشايخنا ولجميع الحقوق الواجبة من المؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات

“Wahai Tuhan kami, ampuni untuk kami, kedua orang tua kami, guru guru kami, dan semua yang punya hak kuwajiban (dari kami) teridri dari orang orang beriman dan orang orang islam, baik yang masih hidup atau yang sudah mati”

Dan doa di ataspun sering saya lupakan, padahal itu adalah cara termudah sebagai balas kasih dari mereka.
Baca Juga : Inilah Kedekatan Gus Dur dengan Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi Kwitang

Minggu, 21 Februari 2016

Inilah Kedekatan Gus Dur dengan Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi Kwitang

Kedekatan Gus Dur dengan Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi Kwitang
 
Kangsoal.blogspot.co.id - Inilah  Kedekatan Gus Dur dengan Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi Kwitang  - Perlu di ketahui bahwa tatkala organisasi NU akan masuk ke Batavia/Jakarta,para Ulama NU terlebih dulu meminta restu AlHabib Ali bin Abdurrahman AlHabsyi Kwitang,lalu Habib Ali meminta kepada KH Ahmad Marzuki bin Mirshod muara untuk melihat perkembangan NU bilkhusus didaerah Jombang,untuk melihat NU secara lebih dekat.

Setelah sekembalinya KH Ahmad Marzuki bin Mirshod beliau khabarakan kepada Habib Ali tentang Organisasi NU yang dudirikan oleh Para Ulama Ahlussunah Waljamaah,lalu Habib Ali memerintahkan segenab murid muridnya untuk membantu Perjuangan NU dan terjun langsung dalam organisasi tersebut


Diantara para Ulama Betawi yang merupakan Murid dari Unwanul Falah yang terjun didalamnya adalah
● KH Naim ( ayah KH Abdul Hay Naim )
● KH Thohir Rohili
● KH Ahmad Mursidi
● KH Ali Sibro Malisi
 

Dan para Ulama lainnya serta seluruh Murid dan Putra dari KH Ahmad Marzuki pun turut serta.
KH Hasyim Asyari bila datang ke Betawi menyempatkan diri untuk datang dan hadir di Pengajian Hari Minggu paginya Habib Ali di Kwitang,dan KH Hasyim Asyari mengingatkan kepada para putranya bila ke Betawi untuk menemui dan meminta Nasehat serta Doa Dari Habib Ali dimana sama kita ketahui dikala KH Wahid Hasyim ditunjuk sebagai mentri oleh Bung Karno hubungan KH Hasyim dilanjutkan oleh Sang Putra dengan seringnya bersilaturrahmi ke pada Habib Ali,bahkan sang Cucu Abdurrahman Wahid/Gus Dur mengaji dan membaca Kitab didepan Habib Ali,sebagaimana langsung dikatakan oleh GusDur sendiri bahwa beliau mengkhatamkan beberapa kitab kecil dihadapan Habib Ali,

" saya ini waktu kecil dibawa ayah saya menemui Habib Ali Kwitang,saya tanya kepada ayah saya ....... siapa
Beliau,apa sama dengan Mbah yang ada dikampung
Lalu ayah saya bilang ....... beliau adalah Habib Ali AlHabsyi cucunya Kanjeng Nabi SAW,yang merupakan Ulama Besarnya Tanah Betawi dan menjadi Guru Besar Ulama untuk orang Betawi,ndengar begitu ya saya bilang sama ayah saya dan meminta idzin untuk ngambil Barakah dari beliau dan ingin membaca Kitab ........ Ya Walaupun itu kitabnya kitab kecil ( maksudnya tidak tebal ) yang penting mbaca depan Habib
Ya Alhamdulillah biar begini saya ini sudah Khatam buanyak Kitab walau kitabnya itu ndak besar dihadapan seorang Ulama besar dari keluarganya Rosululloh SAW "
( di sampaikan di acara Maulid Nabi SAW Th 1990an di daerah Comal )

Belum lagi tatkala PBNU dibawah kepemimpinan KH Idcham khalid,terasa makin erat Hubungan Para Habaib dan Ulama NU di Betawi ini,sampai sampai Habib Ali menganggab KH Idham Khalid adalah anaknya sendiri,beberapa kali Habi Ali mengahdiri acara acara NU baik rapat Akbar dan Musyawarah Nasional yang diadakan di Betawi,bahkan rombongan para Kiai dari Jawa bila NU mengadakan acara di Betawi selalu akan menyempatkan Hadir di Majlisnya Habib Ali di Kwitang,sebagaimana pernah di pimpin oleh KH Wahab Hasbulloh didampingi oleh KH Bagir Marzuqi

Begitu indahnya Hubungan NU dan Habaib dijakarta sudah ada sejak dulu dan KH Abdurrahman Wahid dikala beliau menjadi Presiden beliau menyempatkan untuk mengambil keberkaha dan berziarah ke Makam Habib Ali AlHabsyi di Kwitang yang merupakan Guru beliau juga karna dimasa kecilnya pernah membaca Kitab dihadapan Langsung Habib Ali

Ke indahan yang sudah ada jangan di rusak oleh orang orang yang tidak mengerti akan Sejarah
Dan Presiden Suekarno di acara Hut Kemerdekaan RI tahun 1966 di Gelora BungKarno di Senayan menyatakan
" Bangsa yang baik adalah Bangsa yang tidak melupakan Sejarah,Jangan Sekali kali melupakan Sejarah "


Sumber : Ust. Anto Djibril

Minggu, 07 Februari 2016

ULAMA AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH

ULAMA AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH



BARIS PERTAMA
Dari kiri ke kanan:
1. Habib Anis bin Alwi Al-
Habsyi,
Solo, Jawa Tengah
2. Habib Jindan bin Novel bin
Jindan, Jakarta
3. Habib Hasan bin ja`far As-
segaf, Jakarta
4. Prof.DR. Habib Ahmad bin
Abdulloh Al-Kaff, Jakarta
5. Habib Syech bin Abdul
Qodir
As-Segaf, Solo, jawa Tengah


BARIS KEDUA
Dari kiri ke kanan:
1. Habib Thohir bin Abdulloh
Al-
Kaff, Tegal, Jawa Tengah
2. Habib Mahdi bin
Muhammad
Al-Hiyed, Tegal, Jawa Tengah
3. Habib Sholeh bin Ali Al-
Atthos,
Tegal, Jawa Tengah
4. KH.Asrori Al-Ishaqi,
Surabaya,
Jawa Timur
5. KH.Achmad Sa`idi, Tegal,
Jawa
Tengah

BARIS KETIGA
Dari kiri ke kanan:
1.Hadhratussyaikh Sa`id bin
Syech Armia, Tegal, Jawa
Tengah
2. Habib Munzir bin Fuad Al-
Musawa, Jakarta
3. Sayyib Muhammad bin Alwi
Al-
Maliki, Makkah, Saudi Arabia
4. Habib Umar bin Hafidz,
Hadhramaut, Yaman
5. Habib Zein bin Smith,
Madinah,
Saudi Arabia

BARIS KEEMPAT
dari kiri ke kanan
1. Habib Salim As-Syathiri,
Hadhramaut, Yaman
2. Habib Luthfi bin Ali bin
Yahya,
Pekalongan, Jawa Tengah
3. Habib Ali Al-Jufri,
Hadhramaut,
Yaman
4. Habib Abdulloh bin Abdul
Qodir Bilfaqih, Malang, Jawa
Timur
5. Hadhratusyysaikh Hasyim
Asy`ari, Jombang, Jawa Timur

BARIS KELIMA
Dari kiri ke kanan:
1. KH.Abdurrahman Wahid,
Jombang, Jawa Timur
2. Habib Syech bin Abdul
Qodir
As-Segaf, Solo, Jawa Tengah
3. KH.Mustofa Bisri, Rembang,
Jawa Tengah
4. KH.Cholil Bangkalan,
Madura,
Jawa Timur
5. KH.Maimun Zubair,
Rembang,
Jawa Tengah.